Total Tayangan Halaman

Foto saya
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Seorang pelajar yang menjadi penulis freelance. Look like a Girl, Act like a Lady and Work like a Boss!

Rabu, 05 November 2014

Sosok laki-laki itu...


Bismillahirrahmanirrahim...
Di suatu malam

aku pernah bermimpi digenggam tangannya oleh seorang laki-laki pekerja keras yang bersedia membahagiakan aku. Dia yang bersedia membuat aku menjadi pribadi yang lebih baik.
 
Aku pernah bermimpi diseka air matanya oleh tangan halus yang kokoh, yang mau melindungi aku walau dikala ia susah,sakit bahkan ketika dia senang sekalipun.

Aku pernah bermimpi dielus rambutnya oleh tangan terampil, cekatan yang tak pernah ringan tangan. 

Dia yang akan menjabat tangan Ayahku, adalah seorang laki-laki yang tak pernah takut akan apapun kecuali pada Allah SWT, dia yang tak pernah mengeluh lelah walau keringat mengalir disetiap sela kulitnya, dia yang kuat pendiriannya, dia yang penyayang, dan dia yang mau menggenggam tanganku di depan orang lain dengan bangga. 

Dia yang akan ku kenalkan pada Ibuku adalah seorang laki-laki yang tidak pernah membedakan mana Ibunya, mana Ibuku dan mana Aku. Aku ingin mengenalkan pada Ibuku sosok laki-laki yang selalu takut menyakiti hati perempuan, baik secara tindakannya, ucapannya, bahkan tatapannya. Aku akan mengenalkannya pada Ibu, sosok laki-laki yang tak jauh berbeda baiknya layaknya Ayahku.

Aku akan membawa seorang laki-laki di depan makam Kakungku, yang selalu bersedia mengantarku ke makam Beliau, lalu menuntunku membacakan doa setiap aku rindu pada Kakungku. Aku akan mengenalkan pada Kakungku, bahwa lelaki yang aku bawa di hadapannya adalah laki-laki yang senang bercanda, yang tegas, yang luar biasa wibawanya, yang selalu tampil tampan seperti Kakungku. 

Aku tidak akan memilih laki-laki yang jelas tidak direstui Ibuku, Ayahku, dan Kakungku. Mereka adalah sosok penting yang membangunku, yang membentuk kepribadianku, yang membuat aku tumbuh seperti sekarang. 
Jadi hak merekalah, menentukan siapapun laki-laki yang suatu saat aku bawa kehadapan mereka.
Dia yang tak harus mapan, tapi mau bekerja keras, yang pantang mengeluh. Dia yang tak harus tampan tapi bisa berdandan. Dia tidak harus seorang Kya’I besar, tapi dia yang mampu membuat aku selalu patuh di setiap tiang-tiang agamaku. Amin

6 komentar:

Arsip Blog