Total Tayangan Halaman

Foto saya
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Seorang pelajar yang menjadi penulis freelance. Look like a Girl, Act like a Lady and Work like a Boss!

Kamis, 10 Maret 2016

Pada Sebuah 'Nama' yang Selalu Aku Rapalkan dalam Doa

Kadang aku selalu bertanya kala matahari menyamarkan kabarmu,
sedang apa?
dengan siapa kamu menghabiskan malam?
bagaimana caramu bahagia... tanpa aku?


Banyak kata yang tak terucapkan kala kita bertemu dalam tatap. Banyak kata yang tak tertuliskan saat pesan demi pesan saling kita kirimkan. Sebuah kalimat yang dengan orang lain begitu mudah aku ucap, namun denganmu semua rasanyanya tak pernah lagi sama. Demi Tuhan, aku menyimpan rasa. 

Pada lantai kamar yang dingin dengan kedua tangan yang tak pernah lelah menengadah untuk harap demi harap. 
Pada langit-langit putih dengan bibir yang senantiasa tak pernah lelah mengucapkan apapun  demi segala kebaikanmu.
Pada selembar kain dengan sepsangan mata yang kadang tak luput mengalir sebuah bulir bening. 

Untuk Sebuah Zat yang membuatku jatuh dan kemudian bangkit lagi pada segala keadaan yang ditetapkan-Nya, 

 https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/d1/2a/66/d12a669911900fc06ca7151ea1e16921.jpg
Gusti, sekali lagi aku menghadap untuk sebuah pengharapan. Ku harap Engkau tak lelah mendengar sebuah nama yang selalu sama dalam tiap pintaku. 
Aku tidak meminta-Mu menyandingkan aku dengan dia. Cukuplah jaga ia, Gusti.
Permudah langkah dan percepat studinya, agar cepat ia berada di pintu suksesnya. 
Bayarlah tiap titik keringat yang kemudian mengering di dahinya.
Gusti...
Bukankah ia lelaki yang baik? Mengapa tak coba dekatkan kami?
Apa karena aku yang tak kunjung memperbaiki diri?
Atau memang kami dipertemukan hanya sebatas saling tatap?
Tak apa, setidaknya aku memperjuangkan dia. 
Meski dalam doa.

 


Jujur, aku selalu merindukan saat jemari kami saling bertautan. Saat mataku dan matanya bertemu malu-malu. Saat tawa kami berderai bersama.
Kini aku sadar kalau rasa nyamanku, berbuah pada cinta. 
Pada dia yang namanya selalu aku sebut dalam doa. 

Gusti, tolong sampaikan padanya...
apabila rasaku ini terkalahkan oleh rasanya pada wanita lain, pada rasa kagumnya pada wanita lain
aku tak akan lelah berdoa pada-Mu. 
tidak akan kunjung lelah mengkhawatirkan dia kala matahari sekalipun bulan menyembunyikannya dari pandangku. 
tak kunjung lelah memperjuangkan dia dalam diamku. 

Sampai mungkin pada akhirnya, lelahku sampai pada ujungnya. Atau mungkin kala dia menemukan bahagianya dan bukan aku. 
Disaat itulah aku menutup bukuku untuknya. Lalu mulai menerima sebuah nama yang Tuhan tawarkan padaku.
Yang semoga saja mendoakan aku seperti aku pernah mendoakanmu...

Minggu, 26 April 2015

El Bottela

                Gue enggak tau harus menyebut tempat yang didirikan Alroy itu sebagai pub atau sebagai tempat nongkrong biasa. El Bottela tidak hanya menyediakan minuman beralkohol, tapi juga banyak makanan lezat Spanyol. Tapi, kisah cinta gue berawal dari sana. Dari sudut El Bottela.
                Gue tau, gue bukanlah termasuk di golongan lelaki baik-baik. Ok, mungkin gue punya pekerjaan bagus dengan gaji besar, gue punya rumah, mobil, dan semua kekayaan yang diimpikan wanita-wanita masa kini. Dan banyak yang bilang, gue adalah orang yang good looking. Lalu, kenapa gue bilang gue bukan laki-laki yang baik? Karena gue mencintai dua wanita sekaligus.
                Awalnya gue cuma punya Mara. Model dengan postur tubuh dan muka cantik. Selain fisiknya yang benar-benar anugerah dari Tuhan, sifatnya yang kalem, tenang dan menyenangkan membuat daya tarik tersendiri buat gue. Gue dan Mara bertemu di El Bottella, saat gue sedang ketemu Alroy buat ngomongin bisnis, kemudian Mara datang bersama teman-teman satu profesinya dan duduk manis di meja nomor sembilan sambil menikmati Tropical Drinks. Gue jatuh cinta dengan caranya menyesap minuman, dari caranya ketawa, dan juga dari caranya… mengerlingkan mata.
                Bukan Krisna namanya kalau enggak bisa naklukin cewe. Cukup tiga bulan masa pendekatan, gue bisa milikin Mara. Hingga akhirnya hubungan ini berjalan satu tahun lamanya. Beberapa bulan terakhir ini Mara jadi sering ngomongin soal ‘nikah’. Iya, Mara emang gadis sempurna, dan mungkin enggak ada salahnya buat nikahin dia. Tapi ada rasa bosan yang tiba-tiba muncul dan gangguin otak gue. Mara terlalu baik dan terlalu nurut sama gue. Dia selalu tersenyum bahagia saat gue beliin dia gaun, entah itu seleranya atau bukan. Dia selalu mengucapkan selamat pagi, selamat siang, selamat malam dan jangan lupa makan. Kaya orang pacaran beneran, tapi bukan seperti Mara yang gue mau. Ibaratnya, Mara adalah gunung yang mudah gue capai, gak ada tantangan dan ya cuma itu-itu aja.
                Jelas berbeda dengan Kikan. Dia bukan model, dia hanyalah seorang guru TK yang memiliki wajah dan sifat keibuan. Dia tau dimana bisa menemukan gue saat gue rapuh, dia yang bukan sekedar nanyain “Sayang, kamu udah mana?” atau “Jangan lupa makan ya, Cinta.”. Kikan adalah wanita yang rela datang ke kantor gue naik motor matic walau matahari lagi terik-teriknya buat bawain makan siang, kentang rebus dan rendang. Dia tahu makanan kesukaan gue.
                Gue bertemu Kikan, lagi-lagi di El Bottela. Kikan enggak seperti Mara yang senang menghabiskan waktu buat duduk dan ngobrol ngalur-ngidul di sebuah tempat makan. Sore itu hujan deras dan Kikan nampak amat sangat terpaksa masuk ke El Bottela untuk berteduh sementara. Dari tempat gue duduk saat itu, gue bisa mendengar percakapannya dengan seorang waiters. Ia meminta segelas teh manis panas, dan itu cukup menjelaskan bahwa dia enggak ngerti El Bottela.
                Kemudian gue menghampiri dia, gue tanya apa gue boleh gabung. Awalnya dia bingung melihat gue, mungkin dia kira gue adalah salah satu karyawan MLM yang bakalan ngerayu dia buat gabung. Kemudian gue pinjami dia sapu tangan biru kesayangan gue buat seenggaknya bisa ngeringin air hujan di mukanya yang bersih tanpa cacat. Dia cuma senyum dan bilang terimakasih. Awalnya gue berniat buat traktir makan, gue pesan dua tartaletas de champiƱones buat gue dan Kikan. Dari pai lezat itu, gue jadi tahu kalau Kikan adalah seorang guru di Taman Bermain Internasional, berusia dua puluh tiga tahun dan masih single. Begitu gue mau bayar makanan, Kikan lebih dulu memberikan uangnya ke waiters dan mengatakan kalau itu sebagai ucapan terimakasih atas sapu tangan gue. Manis bukan?
                Setelah perpisahan gue dan Kikan, gue berniat buat mencari dia di tempat dia mengabdi jadi guru. Namun, baru selang dua hari dari pertemuan awal di El Bottela, Kikan muncul di ruang tamu kantor gue. Dia mengembalikan sapu tangan gue dan memberi sekotak kurma sebagai ucapan terimakasih yang kedua setelah mentraktir gue makan di El Bottela. Sebagai laki-laki yang pada saat itu masih cukup baik, gue berniat mengajak Kikan makan siang di sebuah restoran mahal, dan dia menolak. Gue memaksa dia buat bersedia makan siang bareng, akhirnya dia setuju dengan syarat dia yang nentuin tempat makannya. Dan lo tahu dia milih makan dimana? Warung bakso depan kantor gue. Selama tiga tahun kerja, gak sekalipun gue mau makan di sana, bukan apa-apa tapi gue merasa punya uang dan gue ingin menikmati hidup dengan makan di tempat makan yang keren dan mahal.
                Gara-gara Kikan, gue jadi doyan makan kurma dan jadi langganan bakso depan kantor. Kikan membuat hidup gue berwarna. Dia berani mengutarakan apa yang membuat dia enggak sreg, dia enggak sekedar ngomong, tapi dia juga bertindak. Dia mau masak makanan kesukaan gue, dia mau buka pintu rumah dia saat gue kelelahan dan butuh semangkuk sup, dia yang nemenin gue ngelembur kerja, dan Kikan jugalah yang membuat gue merasa… gue punya rumah untuk pulang.
                                                                                                                ***
                Pikiran gue suntuk. Pekerjaan di kantor makin enggak ada habisnya walau tiap hari gue udah ngelembur dan mengurangi jadwal nge-gym. Selain itu, Mara makin rajin ngajakin gue buat sekedar mampir ke toko perhiasan buat lihat-lihat cincin nikah, atau kalau enggak di Blackberry Messenger dia sering ngirimin gambar-gambar foto pre-wedding yang menurut dia keren dan wajib kita tiru kalau kita bakalan menikah. Otak gue udah cukup penat sama kerjaan, dan Mara menambahnya dengan sesuatu yang gue belum niat buat menggapai itu.
  Sore itu sepulangnya dari kantor, gue memutuskan buat mampir ke El Bottela. Gue sengaja mematikan handphone biar Mara enggak gangguin gue lagi dengan cita-citanya menikah. Gue ngerasa butuh minuman yang membuat gue tenang, tapi gue sedang enggak butuh minuman beralkohol. Kemudian, pertama kalinya di hidup gue, gue memesan segelas teh manis panas di El Bottella.
“Lo Krisna, kan?” Alroy yang semula sibuk di meja kasir kini duduk di hadapan gue. Dia memandang kepala hingga kaki gue tanpa celah.
“Biasa aja deh, Roy. Gue lagi suntuk banget.” Jawab gue malas. Gue menyeduh pelan teh manis panas sambil mengingat saat Kikan menyeduhnya saat hujan deras waktu itu. saat pertama kita ketemu.
“Enggak biasanya aja lo minum teh, apalagi teh panas. Duit lo habis buat pesen brandy atau cocktail? Lo bisa bayar belakangan.”
“Gue bosen sama semuanya, Roy. Termasuk sama minuman-minuman elo.” Alroy memandang gue dengan tatapan enggak percaya. Dia meninggalkan gue sebentar untuk mengambil sepiring tapas dan diletakan diatas meja.
“Mungkin lo butuh hiburan? Atau lo butuh liburan.”
“Gue cuma butuh tenang dan nyaman dengan hidup gue.”
“Gue tahu jawaban atas apa yang lo butuh. Lo Cuma butuh duduk berdua dengan gadis lo. Menikmati semilir angin berdua.”
“Mungkin elo bener, tapi gue enggak tahu gadis mana yang bakalan gue pilih buat jadi temen menikmati semilir angin. Gue bingung antara Mara atau Kikan. Mereka, membuat gue jatuh cinta.”
“Kikan? Gadis manis yan pernah duduk dengan elo di meja tiga? Gue kira hubungan kalian enggak berlanjut. Lo jarang ajak dia kemari, kan?”
“Iya. Dia bukan tipe gadis yang suka nongkrong seperti Mara. Dia berbeda, Roy. Gue menemukan yang selama ini enggak gue dapetin dari Mara. Kikan menyuguhkan kenyamanan, dia mau bukain pintu malem-malem buat gue, nemenin gue ngelembur sampai subuh, bikini gue sup dan kopi, nganterin makan siang dan kurma ke kantor, dia seperti rumah buat gue.”
Bien entiendo, Krisna. Lalu apa yang salah dengan Mara? Sejauh gue lihat, kalian baik-baik saja.”
“Kami terlalu baik-baik saja, Roy. Dia selalu suka sama apa yang gue kasih tanpa peduli itu selera dia atau bukan, apalagi dia sekarang ingin kita cepat-cepat menikah. Lo tahu kan, umur gue masih 25 tahun dan gue sedang menikmati pekerjaan gue yang seabrek. Gue punya target buat hidup gue. Dan Mara terus-terusan maksa gue buat datang ke toko perhiasan, ke tempat desainer kondang langganan dia yang katanya bisa bikin gaun nikah yang bagus, dia… ah, gue penat Roy. Gue makin enggak nyaman sama Mara. ”
“Elo udah menemukan jawaban atas apa yang elo cari.” Gue memandang lelaki keturunan Jogja-Spanyol itu bingung. Dia bilang gue udang menemukan apa yang gue cari? Hah, apa maksudnya…
“Jangan bikin gue bingung. Gue enggak ngerti!”
“Lo cerita tentang Kikan dengan berapi-api, lo seperti menemukan rumah tempat lo mengadu dan pulang. Disamping itu, elo mulai enggak nyaman sama Mara yang sepertinya udah habis masanya buat lo cintai. Lo masih enggak ngerti juga?” Gue Cuma bisa diam memikirkan kata-kata Alroy.
Saat itu juga, terdengar bel pintu El Bottela dibuka. Kikan muncul dengan wajah bingung dan matanya mulai mengamati satu persatu pengunjung yang ada di El Bottela. “It’s your home, Krisna.” Kata Alroy sambil menepuk pundak gue pelan dan berangsur meninggalkan gue sendirian.
Saat sepasang mata bulatnya menemukan gue, Kikan tersenyum hangat seperti biasanya. Nampak kelegaan yang luar biasa dari raut wajahnya saat memandang gue.
“Aku tadi ke kantormu, tapi teman-temanmu bilang kamu sudah pulang. Jadi aku pikir kamu pasti datang kemari.” Kikan memperdengarkan tawanya yang seperti lonceng, “aku tahu kamu masih punya banyak pekerjaan. Makanya aku sengaja membuatkan kamu kue jahe dan oh ya, aku tadi mampir membeli vitamin untukmu.”
Kikan menunjukan sebuah tas plastik dan diangsurkan ke gue. Lagi-lagi gue terpukau dengan caranya menunjukan perhatian.
“Terimakasih Kikan. Gue, ah maksudnya aku mencintaimu.” Kataku mantap. Gue bisa melihat semburat merah merona di kedua pipinya.
Gue tahu siapa yang bakalan gue pilih, mungkin bakalan menyakiti Mara, tapi gue memang harus memilih. Gue enggak mau makin lama berbohong sama Mara dan Kikan. Gue merasa berdosa. Gue harus memutuskan.
Gue mengantar Kikan sampai kerumahnya dan membiarkan motor maticnya dititipkan di El Bottela dan dari sana, gue langsung menemui Mara di sebuah apartemen tempatnya tinggal. Mara menyambut gue dengan pelukan yang gue pastikan bakalan jadi pelukan terakhir gue dan Mara.
“Ada apa?” tanyanya heran. Biasanya kami saling janjian untuk ketemu di sebuah pub untuk bertemu. Jarang menemui masing-masing di kediaman.
“Ada yang mau gue bilang sama lo, Ra.” Awalnya gue merasa jahat atas keputusan ini. Gue memilih Kikan yang gue kenal baru empat bulan, dan meninggalkan Mara yang sudah mengisi hati gue duabelas bulan.
“Ngomong aja, sayang. Oh ya sebelumnya, aku mau nunjukin sesuatu. Lihat deh, ini majalah fashion terbaru bulan ini, dan ada desain tentang gaun pengantin. Kamu pilihin dong buat gue, sayang” lagi-lagi dia tidak mendengarkan gue, dia memilih kepentingannya sendiri.
“Kita enggak akan menikah, Mara. Gue lelah sama hubungan kita. Elo adalah wanita baik, sementara gue malah bosan dengan kebaikan yang selama ini elo tawarin ke gue. Gue belum berniat buat menikah dan gue harap, elo bisa mengerti dengan keputusan gue.” Gue udah siap kalau-kalau sebuah tamparan bakalan mendarat di pipi gue, namun Mara hanya menitikan setetes air mata dan kemudian buru-buru menghapusnya.
“Gue paham kok, gue enggak akan maksa elo. Gue tahu elo butuh seseorang yang pastinya lebih baik dari gue, dan gue tahu elo udah nemuin dia.” Mara menghela nafas pelan, “gue tahu elo enggak nyaman, tapi gue enggak peduli. But it’s ok.”
“Gue minta maaf, Mara. Terimakasih buat ngertiin gue.” Gue mengusap rambutnya pelan lalu melangkah keluar dari apartemennya.
Hati gue lega saat itu. Gue merasa bahwa keputusan yang gue ambil udah tepat. Yang gue butuhin bukan wanita yang sama-sama glamornya dengan gue, yang sama-sama suka nongkrong dan minum berduaan sampai larut, tapi yang gue butuhin adalah wanita yang bisa menenangkan gue, yang ada saat kapanpun dan apapun keadaan gue, wanita yang udah seperti rumah buat gue. Rumah dimana gue enggak bakalan bosen buat pulang kesana, Kikan.


Jumat, 24 April 2015

Praha, Tempatku Berlari dan Tempatku Bermuara

                


Kepulan asap dari cangkir keramik yang baru saja diantara seorang pelayan ke mejaku, juga ikut mengantarkan wewangian manis yang amat aku sukai. Coklat panas. Coklat panas tidak pernah berdusta tentang efek yang timbul setelah meminumnya. Hangat, tenang, dan perasaan bahagia akan menjalari seluruh tubuh.
                “Coklat panas lagi, Vy?” sosok Damar tiba-tiba muncul dan kemudian duduk tepat di hadapanku. Ia memanggil seorang pelayan dan memesan secangkir kopi Arabica. Aku kira ia masih menyukai espresso. Bukankah kopi Arabica terkenal pahit?
                “Bagaimana kehidupanmu di Praha? Aku lihat foto-fotomu di Instagram kau sering jalan-jalan. Kau menikmati Praha dengan baik sepertinya.”kata Damar sebelum menyesap kopinya.
                “Praha memang indah. Aku hanya tidak mau menyia-nyiakan waktuku di sana.”
                “Itu benar. Saat kita memiliki kesempatan menikmati dunia luar kita tidak boleh menyia-nyiakannya begitu saja. Suatu saat, kau harus mengajakku kesana.”
                Aku tertawa, “kau bisa mengunjungi Praha kapanpun kamu mau, Damar. Kamu sudah nampak berbeda sekarang, tuan arsitek. Bukankah kariermu gemilang?”
                “Sejauh harapanku. Aku menikmati pekerjaanku.”
                Kemudian kami saling diam. Menikmati cangkir kami masing-masing. Tak lama, Damar mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Aku kira ia akan mengambil rokok, namun ternyata ia malah mengeluarkan permen karet dan mulai mengunyahnya.
                Ia sadar aku memperhatikan gerak-geriknya dan seperti bisa membaca pikiranku ia berkata, “aku tidak lagi merokok, Ivy. Aku berhenti merokok sejak kamu meninggalkanku ke Praha. Aku merasa bersalah saat ingat kau selalu batuk-batuk saat aku merokok di dekatmu. Itu menyakitkanmu.”
                “Aku senang kamu berubah.” kataku lirih.
                “Ada satu yang tidak akan pernah berubah dariku, Ivy. Satu hal, aku tetap mencintaimu sampai detik ini.”
                Aku hanya diam dan menundukan kepala. Entah, aku harus percaya atau tidak dengan kata-katanya. Aku pernah tersakiti.
                “Aku ingin berubah agar kamu kembali percaya, Ivy. Aku hanya mencintaimu. Karierku, semua perubahanku ini aku lakukan demi kamu. Kamu kan yang selalu bilang kalau aku harus berhasil menjadi arsitek? Aku membuktikannya padamu sekarang.”
                “Kamu berbohong, Damar. Sama seperti 5 tahun lalu. Aku… sudah sulit percaya.”
                “Tatap mataku, apa ada kepura-puraan dimataku? Aku mencintaimu.”
                Obrolan menyedihkan kami terputus karena handphone Damar bordering sangat keras. Ia memandang sekilas handphonennya dan mematikannya.
                “Kenapa tidak diangkat?” selidikku.
                “Dari kantor. Aku sudah izin untuk pergi saat jam makan siang sampai waktu kerja habis, tapi sepertinya mereka tidak pengertian.”
                “Pekerjaanmu lebih penting, Damar. Aku bisa cari hotel sendiri.”
                “Aku tidak akan membiarkan kamu sendirian!” ia menggegam tanganku erat hingga rasanya pergelangan tanganku sakit.
                “Damar lepaskan, kamu terlalu erat menggenggam tanganku. Ini menyakitkan.”
                Ia buru-buru melepaskan tangannya dan berkata, “aku minta maaf”
                Kami saling diam lagi. Aku pura-pura sibuk membaca buku menu yang disediakan, sementara Damar memandangku lekat-lekat.
                “Damar? Sedang apa kamu disini, sayang?” Aku mengalihkan pandangan kearah seorang wanita yang kini berdiri di depan meja kami. Aku mengenali wanita ini, dia Prista. Perebut Damar dariku.
                Damar bangkit menghujam wanita itu dengan tatapan membunuh. “harusnya aku yang tanya, kamu sedang apa disini?”
                “Apa kamu lupa? Hari ini Mr. Giovanni akan kembali dari Beijing dan aku menjemputnya di Bandara.” Ah, ternyata Damar dan Prista satu tempat pekerjaan. Aku merasa berada di tempat yang salah, dan aku harus pergi.
                “Maaf, sepertinya aku mengganggu. Damar terimakasih atas waktunya, aku harus segera cari  hotel . Sekali lagi terimakasih.” Aku meletakkan selembar uang di meja untuk membayar coklat panas sekalian kopi Arabica milik Damar dan bergegas pergi.
                Dari kejauhan aku bisa mendengar Damar meneriaki namaku. Namun aku berusaha tidak peduli dan masuk kedalam sebuah taksi.
                                                                                                ***
                Aku menyewa sebuah kamar disalah satu hotel berbintang dekat sebuah Mall. Niatnya agar aku bisa ikut larut dalam keramaian yang ditawarkan. Tapi ternyata aku salah, seharian aku hanya murung di dalam kamar, meratapi kesedihan yang sama seperti 5 tahun lalu. Aku terlalu bodoh… Damar tidak pernah benar-benar mencintaiku.
                Ah, harusnya aku menolak saat ia menawarkan menjemputku di bandara dan akan membantuku mencari hotel untuk menginap selama seminggu aku di Indonesia. Aku menyesali kebodohanku sendiri.
                Tiba-tiba pintu kamarku diketuk. Entah siapa yang datang, yang pasti itu bukan keluargaku. Mereka tidak tahu aku pulang ke Indonesia. Dan aku harap itu bukan Damar.
                Tapi dugaanku keliru, Damar kini berdiri dihadapanku. Pakaiannya rapi ala orang kantoran. Dan terkutuknya aku, aku terpesona padanya entah untuk keberapa kalinya dihidupku.
                “Maaf dammar, aku sibuk. Aku tidak punya waktu untuk…”
                Ia memotong cepat kata-kataku, “Ivy dengarkan aku dulu. Wanita itu memang satu kantor denganku, tapi kita sudah putus sejak kamu mengetahui hubungan gelap itu. Aku mohon, mengertilah.”
                “Aku tidak lagi peduli dengan siapa kamu sekarang, Damar. Nyatanya dia masih memanggilmu sayang, kan? Aku rasa, kamu tidak perlu repot-repot datang ke hotel untuk menemuiku dan menjelaskan semuanya. Aku tidak peduli.”
                “Ivy… aku akan buktikan kalau aku hanya mencintaimu. Percayalah.” Ia mengulurkan sebuket mawar merah padaku, dan kemudian berbalik pergi
                                                                                                ***
                Setelah 3 hari berdiam diri di dalam kamar hotel tanpa pergi kemanapun, aku memutuskan kembali ke Praha lebih awal. Aku sudah tidak sanggup berlama-lama lagi di Indonesia dan terkubur bersama jutaan kenangan dengan Damar.
                Setelah menempuh perjalanan hampir 18 jam dengan pesawat, aku memilih untuk mampir ke sebuah restoran dan memesan Czech yang berupa beef goulash soup dan bebek panggang saus, red cabbage serta kentang kukus untuk mengganjal perut. Entah kenapa aku enggan sekali segera kembali ke rumah. Selesainya menghabiskan makan malamku, aku mampir ke Charles Bridge. Menikmati alunan musik yang dijajakan para pemusik jalanan.
                Dulu… aku dan Damar pernah bercita-cita mengunjungi Praha berdua. Menikmati arsitektur batu Praha berdua dan berniat foto pra-wedding di jembatan ini. Tapi semua sudah berlalu. Semua sudah benar-benar hilang. Aku menyerah, aku melepaskan dia.
                Angin malam di Praha berhembus pelan. Samar-samar aku seperti mendengar suara baritone milik Damar. Tapi, ini Praha dan bukan Indonesia. Damar tidak akan kemari hanya untukku.
                “Ivy…” Astaga! Lagi-lagi aku mengigau suara Damar memanggil pelan namaku. Lalu aku merasakan pundakku disentuh dan… Itu memang Damar.
                “Aku menunggumu seharian di rumahmu. Aku tahu kamu akan pulang ke Praha hari ini.” ujarnya masih memegang tanganku lembut.
                “Kenapa kamu tidak pernah membiarkan aku hidup tenang, Damar? Aku sudah merelakan kamu dengan wanita itu. Aku mohon, jangan datang lagi.”
                “Aku sudah katakana, aku akan buktikan kalau aku hanya mencintaimu. Aku meninggalkan pekerjaanku hanya untuk kamu. Aku datang bersama mereka.” Damar menunjuk sepasang lelaki dan perempuan paruh baya yang amat aku kenali. Mereka adalah kedua orangtua Damar. “aku akan melamarmu, Ivy. Aku menepati janjiku…”
                                                                                                ***
                Satu bulan kemudian…
                Aku dan Damar duduk berdua di sebuah restoran kecil di pinggiran jembatan Charles. Kami baru saja menggelar foto sebelum menikah. Impian kami…
                “Aku bahagia sekali hari ini.” ungkap Damar sambil menatap lurus mataku.
                “Akupun juga begitu. Aku tidak percaya semuanya akan jadi nyata, mimpi-mimpi kita. Semuanya, Damar.”
                “Percayalah, Ivy. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan meninggalkanmu. Aku sudah cukup menyesal dengan kehilanganmu selama 5 tahun. Itu benar-benar menyiksaku.”
                “Aku percaya…”
                Damar mencium keningku pelan dan melingkarkan tangannya di punggungku. Ah, cinta. Tidak ada yang tahu kemana semuanya akan bermuara. Praha adalah pelarianku akan Damar dan Praha pula yang menyatukan kami kembali.
              


Minggu, 19 April 2015

Traveller Modal Nekat!


Kegilaan dan kenekatan ini berawal dari ide ‘cerdas’ yang tiba-tiba muncul disela-sela materi UN yang berjubel di otakku yang mulai kelelahan. Saat itu, saat aku dan sahabat 12 tahun dan semoga selamanya (re: Lajeng) sedang duduk santai di depan teras rumahku. Lalu ide itu keluar begitu saja. Ide itu adalah ‘Keliling Malioboro dengan budget Rp 100.000,-.’ Mungkin banyak yang berpikiran, hari gini uang seratus ribu bisa buat apa? Nyatanya kami bisa dapat banyak hal di Malioboro! 

Sebelum memulai petualangan a la kadarnya ini, kita yang udah kaya pasangan lesbi menikmati hujan berdua yang lagi-lagi di depan teras rumahku bersama secangkir teh panas manis di tangan masing-masing. Kami mulai menyusun strategi biar seratus ribu rupiah kita itu bisa buat pulang pergi, makan, jajan, dan belanja. Si Lajeng kasih ide uang seratus ribu itu harus kita dapetin dari hasil jeripayah kita sendiri. Maksudnya, hasil kirim cerpen atau nguli kek gitu  (?)  Alhamdulillah, dua cerpen aku bisa masuk Kedaulatan Rakyat. Tapi, aku yang memiliki tingkat ingat yang parah, menghabiskan uang dua ratus ribu itu sebelum hari-H. Sudah, jangan dibahas.

Saat H+1 setelah UN, kami nekat ke Malioboro naik kereta Prameks. Cuma dengan Rp 8000,-. dan perjalanan 30 menit dari Stasiun Wates tercinta, kita sampailah di Stasiun Tugu. Dari Stasiun Tugu, kita cuma perlu jalan kaki kurang lebih ya 10 menit dan udah bisa menginjakkan kaki dan sujud syukur di sana. Heleh…
Nge-foto tiket biar jadi anak Hitz.

welcome to Jogjakarta!


 Kemudian, kita mulai meributkan alat transportasi apa yang bakalan kita pakai untuk mencapai tujuan pertama ‘Benteng Vredeburg’. Sebenernya aku udah pernah kesana, tapi karena dalam rangka membahagiakan Lajeng, aku setuju aja kesana lagi. Setelah berdebat antara delman atau becak, akhirnya aku menyerah sama Lajeng dengan harga becak motor Rp 10.000,-.


Dedek Lajeng tampak belakang :3
Vredeburg emang gak ada matinya. Kenapa? Karena dengan tiket masuk seharga Rp 2000,-. aja kita bisa mendapatkan lebih daripada apa yang kita harapkan. Pelajaran sejarah, tempat yang nyaman, pemandangan yang keren, petugas benteng yang ramah, lihat patung-patung penjajah dan patung para tentara pemberani pembela Negara, apa lagi yang kurang? Bisa foto-foto ala vintage di bangunan kunonya, bisa ngeliatan semua bangunan yang ada di benteng Vredeburg walau memang kita perlu melawan panasnya matahari. 
Ini dia 'Benteng Vredeburg'
Ada air menari juga di pelataran Benteng Vredeburg
Hallo!

Lajeng a la model kalender :D
Setelah kelelahan dan kelaparan, kita terpaksa meninggalkan benteng Vredeburg jalan kaki ke malioboro demi sesuap nasi (?) atau lebih tepatnya semangkuk soto ayam (karena Lajeng gak doyan sapi). Letaknya ada di parkiran mobil luar Ramai Mall. Menikmati semangkuk soto ayam, segelas es teh, dan 3 potong mendoan cukup dibayar tunai dengan nominal Rp 9.500,-. KURANG MURAH APA COBA?

Setelah kenyang makan soto, kita melanjutkan perjalan kita menjamah setiap sudut malioboro. Aku lupa kita kemana aja, pastinya kita mampir ke “Pasar Seni Nadzar” cuma buat lihat-lihat dan nyobain blankon. 
Cuma nyobain aja sih, soalnya gak bawa budget berlebih :')


Terus kita mampir ke Malioboro Mall. Kita ke Gramedia walaupun rasanya sungguh susah menahan nafsu memburu (Gak cuma GGs aja yang suka ‘berburu’) dan pura-pura tuli sekaligus buta atas lambaian tangan dan teriakan novel-novel best seller yang terpampang tjakep minta di beli dan diajakin pulang ke rumah. Ah sudahlah :’) Karena uang di domept tidak sanggup untuk membeli sebuah bukupun di Gramedia, kita memutuskan buat makan ice cream di McDonald. Pesen dua gelas ice cream McFlurry dan kita nikmatin ala remaja kota jogja, duduk di deket jendela biar semuanya pada tahu, kita lagi di McDonald! Apabanget~

Biar nge-Hitz foto makanan dulu~

Kita kurang so sweet apa bang? :')

Oh iya, hampir lupa, dalam kesepakatan kita itu, kita harus beli oleh-oleh yang di beli di malioboro dengan nominal uang sebesar… Rp 30.000,-. Aku dapet apa? Banyak! Bermodal tawar menawar yang diturunkan langsung dari Mama, aku bisa beli 6 gelang ikat biar kembaran sama Lajeng, satu gantungan kunci yang dibuat dari kayu bentuknya kereta api uap, itu buat adek aku namanya Elang dan semua itu cukup dibayar dengan Rp 15.000,-. Padahal aslinya kalau gak nawar bisa Rp 25.000,-. Seiring berjalannya waktu, Lajeng beli 2 dream catcher seharga Rp 25.000,-. kalau gak salah. Lupa~ warnanya coklat sama hitam. Bagus sih. Tapi, karena dia terlalu terburu-buru, dia gak sadar bahwa jalan malioboro itu panjang dan yang jualan dream catcher itu banyak! Aku ketemu penjual aksesories sekaligus dream catcher yang lebih keren daripada yang Lajeng beli *ketawa jahat* dan warnanya tosca. Lajeng kelihatan sangat menyesal. Sebagai sahabat yang baik, tidak sombong dan tidak bisa menabung, aku kasihin 3 gelang ikat dan dream catcher yang aku beli itu buat Lajeng. Dan sebagai gantinya, Lajeng kasih aku satu dream catchernya yang warna coklat buat aku dan sebuah kartus pos yang salahnya dia beli di Mall. Itu melanggar peraturan kita! 
Jangan dilihat mukanya! tapi tolong lihat apa yang dibawa, di meja dan dipakai! McFlurry, Gelang ikat biru dan hitam, Dream Catcher dan kartu pos hasil berburu di Malioboro.


Karena takut kehabisan tiket kereta buat pulang ke Wates, kita ke stasiun 1 jam sebelum tiket dijual. Kemudian kita ngegembel duduk selonjor di depan loket bersama para pemburu tiket lainnya. Gak perlu diceritain deh susahnya dapet tiket ini. On time banget! Jam 14.25 ya pokoknya dibuka jam segitu! Kita sampe 3x antri. Kita kurang sabar apa, Bang?

Karena kereta Prameks yang membawa kita balik ke Wates masih 3 jam lagi, kita memutuskan untuk menyambangi sebuah tempat yang mungkin gak banyak orang tahu ada sebuah perpustakaan keren di sepanjang malioboro. Eh, mungkin lebih tepatnya bukan perpustakaan sih, tapi kaya tempat nyimpen arsip gitu. Tapi begitu masuk ke Jogja Library Center, aku udah jatuh cinta sama tempat ini. Tempat ini menawarkan sesuatu yang berbeda di Malioboro. Tenang, kesannya berbeda sama Malioboro yang ramai sama para penjual dan pembeli, tukang becak, serta pak kusir yang siap menawarkan jasa mereka. Fasilitasnya beuh… jempolan! Ada yang buat ngecharge handphone lengkap dengan chargenya, free wifi, Tv yang saat itu lagi nayangin drama korea, tempat baca yang nyaman, dan gak lupa petugasnya yang ramah. Ada juga Kyoto Book Corner yang isinya kaya buku-buku bahasa Jepang gitu deh. Sayangnya, kita datang ke Jogja Library Center itu udah sore, jadi gak bisa lama-lama di sana. 



Kumpulan arsip yang ada di Jogja Library Center. Rapi sekali!
ini di Jogja Library Book Center lho, Bukan di Jepang :D


Kita terpaksa kembali ke Stasiun Tugu dan duduk-duduk cantik sambil menikmati mendoan seharga Rp 11.000,-. Dan kami membicarakan masa depan. Masa depan kami pengen menginjakan kaki di Britania Raya bersama kelak para suami kami.
Nggak kerasa, kereta Prameks yang akan membawa kami pulang datang. Kami kembali berjubelan bersama penumpang lain untuk bisa dapet tempat ‘berdiri’ di dalam gerbong. Dari pengalaman aku dan Lajeng ini, gak ada sedikitpun keinginan untuk pamer atau apapun itu. Ini bukan soal berapa banyak uang yang kita punya, tapi bagaimana caranya dengan apa yang kita punya bisa lebih membawa banyak kesan dan pengalaman. Kita cuma mau menunjukan bahwa uang seratus ribu itu udah bisa membawa kita mendapatkan banyak pengalaman, pembelajaran, menorehkan cerita dan bahkan membentuk rencana baru lagi yang lebih luar biasa. Jangan takut piknik, nanti kamu panik! J

#NB : Pesan ini untukmu yang katanya sudah menjamah setiap sudut Malioboro. Malioboro tak selalu soal belanja, Malioboro tak selalu tentang kaos batik, daster batik, atau bahkan sandal batik. Malioboro juga bercerita tentang kisah, yang jika kamu tidak memulai mencari  kamu tidak akan menemukan di mana oranglain sudah lebih dulu memulai kisahnya. 


Rabu, 25 Maret 2015

Kedaulatan Rakyat, 12 Maret 2015

Alhamdulillah.... malam ini saya diberi kesempatan untuk membagi kebahagiaan saya lagi lewat blog. saya ingin membagikan cerpen saya yang untuk kedua kalinya dimuat oleh Koran Kedaulatan Kedaulatan Rakyat pada hari Kamis 12 Maret 2015. Tanpa banyak basa-basi lagi, inilah cerpen saya :
Kisah Bintang
           
“Hei kamu! Apa yang kamu lakukan di situ?” Galih berteriak dari arah balkon memanggil seseorang yang sedang melintas dengan payung jingganya yang lebar. Gadis itu terus melangkah membiarkan Galih mengumpat sebal. Gadis itu malah membuat sebuah bendungan kecil dengan tangannya dan membiarkannya terisi tetesan air hujan.
            Tiba-tiba pandangan gadis berpayung jingga itu mengarah kearah Galih, bibirnya yang merah jambu mengulum senyum ramah. Galih mendadak sesak nafas. Namun belum lama Galih menikmati senyumannya, gadis itu beranjak pergi, seolah membawa hujan beserta dengannya. Hujan ikut menghilang.
                                                                        ***
            Sepiring nasi goreng telah tersaji di depan Galih. Namun tanda-tanda untuk segera melahap makanan tersebut tidak nampak, nasi goreng itu hanya dibiarkan mendingin.
            “Ngelamunin apa heh?” Banu, kakak Galih satu-satunya menyenggol lengan Galih begitu saja dan membuat Galih tergagap.
            “Enggak ada apa-apa.” sahut Galih cepat. Banu hanya memandang Galih heran, tidak biasanya adiknya itu diam di meja makan.
            “Mas Banu, ada gak sih hantu cantik dan datang waktu lagi hujan?” tanya Galih polos.
            Banu sontak tertawa mendengar pertanyaan adiknya itu, “heh, mana ada hantu cantik. Kalaupun ada, itu hantu gak bakalan mau muncul hujan-hujanan! Nanti make up-nya luntur kena air hujan!”
            Galih merasa bertanya pada orang yang salah. Ia meninju lengan kakaknya itu lalu beranjak pergi.
                                                                        ***
            Malam ini bintang bertebaran di langit Yogyakarta. Galih sedang enggan keluar rumah seperti malam-malam cerah sebelumnya. Galih tengah merapalkan doa agar bisa diberi kesempatan memandang gadis cantik berpayung jingga itu lagi.
            Galih sudah menghabiskan 2 cangkir teh manis sebagai teman. Namun seseorang yang diharapkan tak kunjung melewati teras rumah. Ja sudah menunjukan pukul 21.45 dan Galih menyerah. Dinginnya angin malam memaksanya menyudahi penantiannya. Gadis itu tidak akan datang malam ini.
                                                                        ***
            Cuaca memang sedang tak menentu, pagi tadi matahari begitu teriknya memancarkan sinar. Namun malamnya, awan mendung menguasai langit Yogyakarta, hujan turun deras. Galih mengumpat sebal, harusnya ia mendatangi acara ulangtahun temannya malam ini. Namun gagal. Ia hanya duduk di teras rumah, sesekali ia berjalan mondar-mandi menyesali hujan.
            Perhatiannya tiba-tiba teralihkan saat melihat seorang gadis melintasi rumahnya dengan sebuah payung jingga. Gadis itu berjalan pelan seolah menikmati tetesan demi tetesan yang turun dari langit.
            “Astaga, dia benar-benar datang saat hujan!” Galih segera mengambil payung dari dalam rumah dan mengejar gadis itu.
            “Hei, siapa kamu?” tanya Galih. Namun pertanyaannya tak digubris sama sekali. Bahkan gadis itu tidak membalikkan badan untuk memandang seseorang di belakanngya. Berulang kali Galih berusaha mengambil alih perhatiannya, namun ia tidak digubris. Karena kesal, Galih memegang tangan gadis berpayung jingga itu begitu saja dan memaksanya ikut ke rumahnya. Gadis itu menurut saja dengan Galih.
            Mereka kini duduk berhadapan di teras rumah Galih. Galih menunggu-nunggu gadis di depannya buka suara namun ia tetap bungkam.
            “Baiklah, siapa namamu?” tanya Galih pada akhirnya. Gadis itu tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah notes.
            Maaf, saya tuna rungu. Nama saya Bintang. Tulis gadis itu di bukunya. Galih kaget bukan main. Gadis sempurna di depannya ternyata seorang tuna rungu, dan tentu tuna wicara. Galih diam beberapa saat membuat Bintang, nama gadis berpayung jingga itu heran. 
            Ia mengambil notes Bintang dan ikut menulis di sana. Kenapa kamu selalu muncul saat hujan?
            Karena saya suka hujan. Hujan menyamarkan air mata saya. Dan hujan membawa banyak kenangan bersama Ibu…
            Galih tertegun lagi. Bintang punya cerita dengan hujan. Ia membalas tulisan Bintang, Maukah berteman denganku?
            Bintang tidak membalas tulisan Galih. Ia hanya mengangguk mantap. Galih menulis lagi, Berjanjilah Bintang, kamu tidak akan menyia-nyiakan matahari dan bulan. Mereka juga punya cerita..
            Lagi-lagi Bintang mengangguk. Hujan reda. Ya, hujan benar-benar reda saat itu dan digantikan dengan sebuah bulan yang nampak malu-malu untuk muncul lalu di susul ribuan titik bintang. Mereka saksi dalam cerita Bintang yang baru. 

Minggu, 15 Maret 2015

Untuk Sahabat, Kakak perempuan dan kembaran 12 tahun Selamanya

Untuk kembaran 12 tahunku, Lajeng Padmaratri.
 
                Aku masih ingat saat kelas 2 SD, aku menangis sepulang sekolah karena seorang teman memakai rautan pensilmu sebelum aku. Aku masih ingat saat kelas 8 SMP saat kita saling berdiam diri karena sosok lagi-laki gendut itu. Aku hampir tidak pernah bisa melupakan apa yang pernah kita lakukan.
                Ingatkah kamu, siapa yang pertama kali membuatkan akun facebookmu? Aku. Ingatkah kamu, siapakah yang mengenalkan dunia magic Harry Potter padaku? Kamu. Siapa yang mengajariku main blog? Kamu. Siapa yang mengajariku membaca novel-novel klasik, walau sampai saat ini aku tidak pernah menyukainya. Kamu.
                Untuk sahabatku, aku ingin jujur satu hal padamu. Tapi aku mohon, jangan tertawakan hal ini. Aku paling tidak suka ada seseorang yang berusaha menggantikan tempatku di hidupmu, mengambil predikat ‘sahabat’mu. Aku selalu saja cemburu pada mereka yang kini lebih punya waktu berteman denganmu. Kita menghabiskan 6 tahun yang indah di SD Negeri Percobaan 4, kita satu kelas, dan pasti satu tempat duduk. Aku ingat sampai sekarang, selama 12 tahun perjalanan persahabatan kita, hanya sekali kamu memberiku contekan saat ulangan. Kamu benar-benar pelit! Saat ulangan, kamu pasti membuat sebuah tembok tinggi agar tidak ada siapapun bisa melihat jawabanmu. Hahaha, anehnya aku tidak pernah merasa sakit hati akan hal itu. Aku bangga dengan kejujuranmu. Kita masuk SMP yang sama setelah itu, SMP Negeri 1 Wates. Namun menyedihkan, kita beda kelas. Kamu kelas A dan aku kelas B. Tapi saat jam istirahat datang, kita duduk di bangku depan kelasku. Membicarakan apapun sambil menikmati jajanan. Dan, kita tumbuh menjadi remaja bersama-sama. Sayangnya, kita masuk SMA yang berbeda. Saat itulah kita makin jarang punya waktu bertemu. Namun, disela-sela waktu kita yang tak pernah berjodoh, kita selalu menyempatkan diri bertemu . Entah makan mie ayam dan sup buah di pojokan BPD atau makan es krim di rumahku, atau makan ramen (kamu) dan somay (aku).
                Kamu adalah satu-satunya teman yang berani ngomel padaku seperti mamaku. Dan anehnya, aku selalu menurut apa katamu. Kamu adalah seseorang yang kadang tidak mengerti perasaanku. Saat aku bingung karna kesalahanku memilih jurusan di pendaftaran SNMPTN, kamu malah seenaknya ngomel. Itu menyakitkan. Tapi, aku tidak bisa marah.
                Ada satu hal darimu yang aku tidak suka. Kamu seolah tidak pernah menganggapku ada. Kamu si pemikir segalanya sendiri. Seolah kamu hidup sendirian, tidak ada yang mau mendengarkan keluh kesahmu, tidak ada yang mau memberimu saran, seolah kamu tidak percaya siapapun, termasuk aku. Tenanglah, mungkin menurut orang lain aku buruk dalam menjaga rahasia. Tapi, bisa aku pastikan rahasiamu akan aman sama aku. Hey, bukannya guna sahabat itu untuk saling berbagi? Kadang aku merasa tidak adil, aku sering mengadu banyak hal padamu. Namun kamu tidak pernah sekalipun mengadukan apapun masalahmu padaku. Ah, aku mungkin bukan sahabat yang baik.
                Satu hal yang perlu kamu catat : aku tidak pernah menjadikanmu seseorang yang akan aku datangi saat aku butuh sesuatu. Mungkin kamu pernah berpikir kalau aku menjadikanmu alat serbagunaku, namun itu tidak benar. Percayalah, Bee. Aku tidak pernah berfikir seperti itu.
                Aku masih ingat semalam, saat kita duduk berhadapan sambil menikmati milkshake kita masing-masing. Kamu smulai berani menceritakan kisah ‘pahit’mu padaku. Kamu tau apa yang aku rasakan saat itu? Aku merasa tidak berguna. Aku merasa tidak pernah menjadi sahabat yang baik untuk sahabat terbaikku. Kamu hidup bersama jutaan orang di sekitarmu, pilihlah salah satu dari mereka untuk jadi pendengarmu kalau kau memang tidak percaya pada sahabatkmu sendiri. Setidaknya, bebanmu terangkat sedikit. Aku tidak berniat mencampuri urusan pripadimu, tapi aku mau kamu berbagi beban. Tubuhmu sudah kurus kering begitu, setiap hari masih dipaksa membawa tas sekolahmu yang berat itu, masih ditambah dengan beban.
                Semalam dan seperti hari-hari yang lalu, kita selalu menertawakan hal-hal yang sama. Kita membicarakan sesuatu yang amat sangat ‘kita’. Ingat, kita sudah punya 2 rencana menakjubkan setelah Ujian Nasional kita kalahkan.
                Sahabatku, tetaplah menyempatkan waktu untukku esok kala kita sudah makin jauh jaraknya. Aku tetap berharap, kita bisa satu universitas. Tetaplah menjadi Lajengku yang jujur, yang punya pendirian kuat dan lemah lembut. Thanks for everything we do together.

                                                                                                                    Yogyakarta, 15 Maret 2015

                                                                                                                     Dyar Ayu Budi Kusuma. You’re best friend for my life. 

Sabtu, 14 Maret 2015

Happy Ending

Wish me luck! - giveaway 'Diverse Sides' Yanti Handia




Happy Ending

Wanita di depanku terus menundukan kepala. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai menutupi wajahnya yang sudah hampir 3 tahun ini ku kagumi kesempurnaanya. Tidak terdengar lelucon seperti biasanya, kini ia sibuk terisak.
                “Sudahlah Sienna. Minum dulu coklat panasnya, aku membuatnya untuk kau minum. Bukan untuk kau diamkan seperti ini.” kataku berusaha tenang, aku tidak suka melihat Sienna menangisi orang lain selain aku. Jujur, aku sakit hati. Ia mencoba meneguk coklat panasnya, namun ia malah tersedak dan memuntahkan semua isi perutnya. Ya Tuhan…
                “Maafkan aku, Damian.” Ujar Sienna. Aku tahu, ia mengumpulkan tenaga untuk mengutarakannya.
                Aku mengambil gelas coklat panas itu dari tangannya dan kuletakkan di meja. Aku bopong dia ke kamarku. Aku bisa merasakan tubuhnya demam, ah bibirnya yang biasanya selalu mengkilap berwarna merah muda kini pucat.
                “Tidurlah.” aku mengambil sebuah selimut paling tebal yang kupunya dan membalutkannya ditubuh Sienna. Ia menggigil hebat. Aku memutuskan untuk mengomopres dahinya dengan air hangat. Melihatnya begitu tak berdaya adalah kelemahanku, aku mencintainya lebih daripada apapun.
                5 jam yang lalu aku sedang duduk di sebuah coffee shop dengan beberapa teman kerja merayakan keberhasilan kami, tiba-tiba handphone-ku berdering dan tertera sebuah nama yang amat ku kenal, Sienna Milla. Aku masih ingat suaranya diseberang telpon, ia menangis tersedu-sedu memintaku untuk menjemputnya di rumah kosnya. Aku tau apa yang terjadi saat itu, laki-laki itu mengkhianati Sienna untuk entah keberapa kalinya. Dan untuk kesekian kalinya aku ada untuknya. Aku pamit pada teman-temanku untuk pergi lebih dulu, menembus hujan deras yang sesekali diiringi petir memekakkan telinga dan melakukan sebuah perjalanan satu setengah jam dengan motor. Ya, semua demi Sienna, mantan kekasihku.  
                Ia sudah menungguku di depan rumah kosnya dengan payung merah yang dulu aku berikan. Ia merengek minta ikut ke rumahku dan aku, selalu tidak bisa menolak keinginannya. Ia memakai jaket hujan milikku satu-satunya dan membiarkan diriku sendiri basah kuyup. Kami pernah bersama selama 2 tahun, lalu Sienna memutuskan berpisah karena aku tak kunjung memiliki pekerjaan. Ia lalu berpacaran dengan kawan satu kampus, namanya William. Kami sudah tak bersama, tapi tidak berarti kami saling menjauhkan diri. Contohnya seperti ini, saat Sienna menyadari William memiliki wanita lain dihidupnya, Sienna menghubungiku, menangis di pundakku.
                Tengah malam. Aku masih menunggui Sienna yang tengah berbaring di ranjangku dan sesekali aku mengganti kompresan di dahinya. Badannya sudah tak sepanas tadi. Ya, mungkin aku bisa istirahat sebentar di sofa…
                                                                                                ***

                Aku terbangun oleh sinar matahari yang menyela masuk lewat jendela. Aku merasa sangat letih dan pusing. Semua berputar saat aku mencoba membuka mata. Namun aku bisa merasakan sebuah selimut membungkus badanku.
                “Sudah bangun?” terdengar suara Sienna yang kini duduk di sampingku. Ia sudah jauh lebih baik.
                “Maaf aku tidak merawatmu dengan baik. Akan kubuatkan bubur untukmu. ” ujarku lalu berusaha bangkit. Ia menahanku dan memelukku erat-erat. Lagi-lagi ia menangis.

                “Harusnya aku yang meminta maaf, Damian. Aku bodoh. Harusnya aku tahu, kamu yang terbaik. Ah, biar aku yang buatkan bubur untukmu.” Aku bisa merasakan kesungguhan dari kata-katanya. Ah, inilah yang aku tunggu. Perjuangan dan pengorbananku tidak akan sia-sia. Aku percaya, Sienna adalah ‘happy ending’ -ku. 

Arsip Blog